Sunday, March 31, 2013

Tentang Aku, Warung, dan Ayam Potong

Akhir-akhir ini aku lagi dilanda bimbang *beeuuh bahasanya.. eh tapi beneran. Kali ini bukan karna sebuah kata tentang "Cinta", mungkin ini lebih ke kehidupan.

Aku adalah anak dari seorang Bapak yang sedari dulunya memang berjualan, dia pernah jualan buah, jualan minyak tanah, jualan sembako, dan macem-macem deh. Karena Bapak memang bukan berasal dari orangtua yang kaya raya, jadi hidup bekerja keras telah diembannya sedari ia kecil dulu.



Hingga ia menikah dengan ibuku, yang setelah aku berumur 3tahun, ia berhenti bekerja dan memutuskan untuk membuka usaha, warung sembako kecil-kecilan dirumah. Yah, Ibu pun sosok pekerja keras semenjak ia muda dulu.
Dan bagaimana dengan aku?? adakah sosok mereka menempel sediiikiiiit saja dalam diriku? minimal sifat Pekerja Keras yang mereka miliki? Entahlah, sejujurnya aku pun masih meraba-raba jalan mana lagi yang ingin aku pilih.

Aku, setelah lulus SMA hanya sanggup bekerja menjaga Toko Celana Pendek disebuah Mall di Bogor. Setelah beberapa bulan, aku mulai merasa bosan dengan aktifitas itu. Pergi pagi pulang malam, nyaris tak pernah bertemu matahari.
Aku kembali melanglangbuana, kesana kemari sampai terbentur karang dan aku "terhenti" sejenak. Entah tertidur atau mati sesaat.
Perlahan bangkit dan rasanya ingin berlari mengejar yang telah lalu.

Sampai pada waktu aku harus memilih, mengikuti takdir atau mengikuti inginku. Terakhir bekerja juga menjaga sebuah toko, tapi ibu sering sakit dan aku jadi sering bolos kerja. Selain harus merawat ibu, aku juga harus menjaga warungnya. Dan aku memutuskan untuk berhenti dan lebih fokus pada Ibu. Memang, memang Ibu yang minta agar aku tak perlu lagi kerja dimana-dimana, ia hanya ingin aku membantunya mengurusi warung miliknya. Ia berharap jika kelak aku yang akan meneruskan usahanya itu.
Pintanya itu membuatku "sedikit" membatin, sejujurnya aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga setelah menikah nanti. Aku ingn menjadi Ibu yang hanya mengurus anak-anakku dengan baik. Tapi, itu hanya sebuah keinginan saat ini saja (mungkin).

Saat ini, sudah hampir satu tahun aku menjadi pengangguran. Padahal dulu, aku punya keinginan setelah lulus, bekerja dan hasilnya aku ingin kuliah, tapi memang "Keinginan tanpa usaha, hasilnya Nihil" hhe.

Terkadang juga, aku dan Ibu membantu Bapak di Pemootongannya. Yah, aku sih cuma bantu "nerima" uang, semacem kasir gitu. Kalo ibu, bantu motongin ayam, Ibu udah jago kalo motong ayam. Itu juga, kalo lagi mau puasa atau mau lebaran aja.

Tapi, seiring perjalanan usia Bapak yang sekarang hampir 63tahun, mungkin ia merasa "jenuh" entah "lelah. Kadang kulihat ia seperti ingin berhenti. Dan aku, aku gak tau harus bantu apa. Aku gak tau apa-apa tentang usaha per-Ayam-an ini.

Mungkin, dari ke 6 anak dari istri Tua Bapak sudah tak ada yang bisa ia harapkan lagi untuk menjadi penerus usahanya. Kini Bapak hanya menggantungkan harapannya padaku, satu-satunya anak dari istri muda Bapak, yang umurnya pun terpaut 20tahun.
Dan aku gak pernah berpikir untuk meneruskan usahanya, karena aku pikir anak dari istri Tua Bapak yang lebih berhak atas itu, terlebih aku ini anak perempuan.

Setelah beberapa saat lalu, usaha Bapak hampir pailit dan Bapak sendiri mengaku padaku jika ia telah merasa "Pesimis". Aku pikir jika memang harus terhenti, ya udahlah. Toh, masih ada warung ibu, cukuplah jika untuk menghidupi tiga orang.
Entah keyakinan darimana, Bapak bangkit kembali. Mungkin kata menyerah gak pernah ada dikamus hidup Bapak. Ia pun semakin Yakin jika aku lah orangnya. Orang yang akan meneruskan usahanya ini.

Sementara aku, disisi lain telah menikmati keinginan Ibu. Aku mulai berpikir untuk mengembangkan Warung Ibu, yah setidaknya menjadi warung yang serba ada. Itu pun aku menapaki "ilmu"nya secara tertatih. Belum sampai aku disana, Ibu kembali mendukung keinginan Bapak untuk menempatkan aku menjadi penggantinya nanti.
Yah, Ibu mengalah jika warungnya harus sedikit "terbengkalai".

Ibu bilang kalau,
Biarpun ini usaha ayam potong yang seharusnya dikerjakan laki-laki tapi kalo perempuan juga bisa kenapa engga? Toh untuk urusan produksinya ada pekerja. Tinggal menjalankan aja kok. Gak ada masalah perempuan atau laki-lakinya.

Lalu bagaimana dengan Aku?

No comments:

Post a Comment