Saturday, November 2, 2013

Masuk Neraka Siapa Takut : Masihkah Harus Sombong ?

peringatan
gmbr dari sini
*Kalau punya mobil, udah boleh sombong*

Kata diatas sebetulnya bukan sebuah pernyataan, melainkan sebuah pertanyaan meski tanpa tanda tanya. Iya, pertanyaan itu sempat melayang-layang dibenakku pagi tadi. Tentunya bukan tanpa sebab, jadi ceritanya tadi pagi aku pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan. Dan salah satu hal yang ingin aku beli, mengharuskan aku melalui jalanan pasar tradisional yang penuh sesak dengan kendaraan. Jajaran kendaraan umum maupun kendaraan pribadi itu terhalang pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya di sepanjang jalanan pasar. Belum lagi, mobil-mobil besar yang sedang menurunkan barang pesanan toko-toko membuat jalanan semakin menyempit. Tak perlu hiraukan para supir angkot yang berhenti sesuka hati demi berlembar-lembar uang ribuan lusuh, itu sudah menjadi hal biasa. Sebetulnya aku bisa saja tidak melewati jalanan ini, tapi jaraknya jadi lebih jauh lagi.



Aku sendiri dari tadi sudah berhasil melewati beberapa mobil, menggunakan sepeda motor memang jauh lebih leluasa bergerak ya? Disaat ada sedikit saja celah untuk masuk, pengendara motor lain dengan cekatan menjalankan aksinya. Sementara aku masih terhalang satu pengendara motor lain, dan tanpa sengaja motorku 'mencium' (sebetulnya mengenai, tapi terkesan menabrak) mobil mewah berwarna putih yang sedari tadi ada di depanku. Coba aja bayangkan, gak mungkin jugakan aku menabrak mobil dengan kencang dalam keadaan macet seperti itu? Lagipula, aku bukan menabrak, hanya saja motorku berhenti terlalu depan. Sehingga spakbor motorku menempel sedikit ke bagian belakang mobilnya.
Dan kalian tahu apa? Si empunya mobil langsung membuka pintu mobilnya dan menunjukan muka tak bersahabatnya. Aku gak sempat dengar jelas apa yang dia ucap pertama kali, aku hanya berusaha menjelaskan kalau mobilnya terkena motorku sedikit, sambil minta maaf tanda aku mengakui kesalahanku. Dan dengan nada yang masih tinggi dia bilang, "Kenapa enggak kenceng aja  sekalian?", Aku cuma diem aja, kalau aku jawab bisa nambah panjang urusannya, pikirku.

Sebelum kejadian itu, aku juga sempat memperhatikan kaca belakang mobilnya. Terdapat gambar tentara dengan tulisan yang kurang lebih seperti ini, "Harus berani perang kalau mau damai". Lagi lagi dalam hati aku bilang, gimana mau damai kalau keadaannya perang. Hehehe. Jadi, aku mulai berpikir kalau yang punya mobil mungkin tentara, belum lagi sewaktu aku dimarahi, aku sempat melihat topi tentara di dekat stir mobilnya. Takut? Jelaslah, karena memang aku salah bukan takut karena melihat topi tentara itu, bukan sama sekali.

Setelah kejadian peneguran yang kurang mengenakan hati itu. Bapak pengendara motor Mio putih yang sedari tadi ada di sebelahku, mencoba menenangkanku dengan berkata "Gak apa-apa neng ya mobilnya" dan aku hanya bilang "iya pak, padahal kalau gak mau lecet mobilnya jangan dipake jalan ya", candaku.

Aku tahu sih, memang kalau mobil lecet sedikit, biayanya pasti tidak sedikitkan? Tapikan namanya mobil dipakai jalan, harusnya jadi hal yang wajar kalau lecet-lecet sedikit. Bisa ajakan pas lagi parkir, terus kena apa gitu sampai mobilnya lecet.

Lantas aku mulai berpikir, apa iya harus selalu seperti itu ekspresinya?

Tiba-tiba saja aku teringat kejadian beberapa tahun lalu, kejadian yang nyaris sama.
Waktu itu aku mendampingi sepupuku yang sedang giat melancarkan kemampuannya berkendara sepeda motor. Karena aktifitas sehari-harinya kuliah, jadi rute yang kami lalui hanya sebatas dari rumah sampai kampus, yang jaraknya bisa dibilang jauh juga. Aku dengan motorku dan dia dengan motornya. Alhamdulillah kami sampai kampus dengan selamat, aku lihat dia juga sudah mulai lancar mengendalikan motornya. Sayangnya diperjalanan pulang, saat aku telah mendahului kendaraan di depanku, saudaraku ini mungkin terlalu cepat mengarahkan motornya ke sebelah kiri, itu berakibat motornya "mencium" kaca spion milik mobil yang akan di dahului. Aku yang melihat kejadian itu lewat kaca spion motorku, sontak memarkirkan motor di pinggir jalan. Pun dengan sepupuku, ia bergegas menepi. Lalu kulihat pemilik kendaraan keluar dari mobilnya. Sepertinya ia akan memarahi sepupuku, tapi beruntungnya setelah kujelaskan jika sepupuku ini baru belajar berkendara, iapun memaklumi. Lantas tersenyum dan berkata, "lain kali lebih hati-hati ya"

Mengingat kejadian itu, aku pun sadar, mungkin memang seperti itu reaksinya, kalau barang milik kita yang harganya ratusan juta, tersentuh bahkan terancam hilang kemulusannnya oleh oranglain. Meskipun yang tergores itu sedikit, bahkan meski yang tersentuh itu hanya bagian kaca spion yang bergeser beberapa mili dari tempatnya semula.
Harap maklum, aku belum pernah memiliki sesuatu semahal itu, jadi aku enggak tahu pasti rasanya seperti apa. Kalau membayangkan saja, rasanya sih iya, akupun demikian tidak rela.

Dan kemudian, muncul pertanyaan itu dalam diriku. Apa jika suatu saat nanti, jika Allah memberiku kesempatan memiliki barang mewah semacam mobil, kemudian ada orang yang dengan cerobohnya memberi goresan kecil pada mobil itu, apa aku juga harus semarah itu? Apa aku harus sesombong itu? Menampik kesadaran bahwa itu adalah sebuah ketidaksengajaan.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus bertanya akan hal itu. Disela waktu memahami kejadian pagi itu, sempat-sempatnya aku berpikir kalau semua yang mengendarai mobil pribadi, terlebih mobilnya bagus pasti marah juga kalau tanpa sengaja kaca spionnya aku sentuh. Lalu aku? Mungkin ini peringatan buatku.
Mungkin tanpa aku sadari, pernah ada hal yang aku lakukan bernilai kesombongan buat oranglain. Atau dengan kesadaran penuh, justru aku berbangga hati menyombongkan diri. Seakan tidak pernah berpikir jika kesombongan dapat membuatku terhina di dunia, dan pasti celaka di akhirat.

Masih teringat jelas kesombonganku semasa SMP dulu, saat aku sering kali mangkir dari tugas utamaku sebagai pelajar. Terutama saat pelajaran bahasa Arab tiba, merasa sudah tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan guru. Aku dengan santainya, memasang earphone di telinga yang terhalang kerudung lalu mengalunkan beberapa musik yang ada di playlist handphone-ku, tanpa mempedulikan guru baik hati yang sedang menyalurkan ilmunya di depan kelas. Dan dengan bangganya, aku bilang jika SMA nanti, aku enggak akan bertemu dengan pelajaran bahasa arab lagi.
Saat SMP, sekolahku memang memiliki pengajaran dasar agama islam yang lebih dari sekolah biasa lainnya. Dan aku berniat jika SMA nanti, akan mendaftar di sekolah biasa. Atas dasar itu, aku sombong berkata jika SMA nanti aku tidak akan bertemu lagi dengan pelajaran bahasa arab.

Setelah masuk SMA biasa, nyatanya kesombongan semasa SMP itu hanya berbuah penyesalan. Penyesalan yang luar biasa, penyesalan yang masih terasa dampaknya sampai saat ini. Ternyata, saat tahun ajaran baru angkatanku dimulai, setiap sekolah wajib memiliki pelajaran tambahan bahasa asing selain bahasa inggirs. Yang akhirnya, sekolah SMA ini memilih bahasa arab sebagai pelajaran tambahannya. Nyaris tidak aku percaya dan keadaan berkebalikan, pelajaran bahasa arab jadi salah satu pelajaran yang aku minati. Saat ada diskusi dipelajaran bahasa arab, aku kebagian pertanyaan dari guru tersebut. Malangnya, pertanyaan itu adalah pelajaran yang sempat aku lewatkan semasa SMP dulu. Malu luar biasa, asli malu banget. Kalau teman-teman yang lain enggak bisa jawab sih rasanya wajar-wajar aja, karena mungkin baru dibangku SMA ini mereka bertemu pelajaran bahasa arab. Sedangkan aku? Kan udah pernah, jadi hasil belajar bahasa arab semasa SMP apa? Nihil.


Dan pasti masih banyak lagi kesombongan-kesombongan lain yang sering timbul, baik lewat perkataan, perbuatan, ataupun perasaan. Semoga kejadian hari ini membuatku lebih bisa bermawas diri. Syukur-syukur bisa melunturkan rasa sombong yang kerap hadir meski hanya sekecil debu. Karena ternyata, kesombongan merupakan dosa yang pertama kali terjadi. Orang muslim tentulah tahu cerita tentang Ibilis yang enggan bersujud pada nabi Adam ‘alaihi salaam, dan itu dikarenakan sebuah kesombongan. Nauudzubillah min dzalik, semoga kita senatiasa dijauhkan dari sikap sombong, Aamiin.



Artikel ini diikutkan sebagai peserta Fiesta Tali Kasih Blogger 2013 BlogS Of Hariyanto - Masuk Neraka Siapa Takut !!!???

28 comments:

  1. Alhamdulillah, terimakasih sudah berkenan berpartisipasi,dengan ini resmi terdaftar sebagai peserta....
    serba salah juga ya...punya mobil salah, nggak punya mobil salah, tapi yg penting saat ekonomi kita menanjak kita nggak pernah lupa utk selalu melihat ke bawah,,,dengan demikian kita tidak akan terjebak dalam arogansi kekayaan yang bisa membutakan nurani kita..... salam santun dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama om ^^

      Iyah betul om, yg plg penting senantiasa bersyukur ya..

      Delete
  2. sombong merupakan penyakit hati yang semestinya kita obati dengan berzikir...

    ReplyDelete
  3. kisah yang patut kita ambil hikmahnya mbak.. semoga kedepan kita lebih hati2 lagi aamiin

    ReplyDelete
  4. Sifat sombong harus kita hindari karena kebanyakan orang akan membenci kita karena sifat sombong

    ReplyDelete
  5. Dapet pelajaran berharga kali ini. Semoga kembali bermanfaat. Hindari sombong, yuk.

    ReplyDelete
  6. "Marah" bukan berarti sombong, mbak. Hehe
    Kondisi macet bisa membuat orang lebih galak dari biasanya. Hahaha
    Sekalipun sebaiknya memang tidak semarah itu. Bicarakan baik-baik, cari solusi. Saya rasa lebih terhormat. Apalagi kalau ternyata mobilnya tidak kenapa-napa. Keep Smile... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kirain kalo marah salah satu tanda orang sombong kak :) salah ya, hihiii
      iya harusnya sih gitu yaaa...

      Delete
  7. aamiin.. semoga kita dijauhkan dari sifat sombong :)

    ReplyDelete
  8. eh, sombong itu temannya ayam lho. percaya nggak...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm, iyaakah ? o.O?
      kok bisaaa ? :D

      Delete
    2. manusia itu tidak boleh sombong. berarti kalau sombong itu manusia apa bukan?
      maka yang sombong layak dijadikan temannya ayam kan? he...7x

      tulisanku untuk pkk warung blogger:
      http://matahati.blogdetik.com/2013/11/04/cerita-abg-cerita-abg-anakku/

      Delete
    3. hehe iyaa juga sih ya :D

      kereen mas (y)
      kirain saya blog itu yg punyanya cewe,hehe
      maaf lhoo yaa ^^

      Delete
  9. hooo~ iya sih emang..
    kalau sudah marah kadang segalanya jadi diluar kendali >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa ka, mengendalikan marah tuh emang susah yaa >.<

      Delete
  10. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang rendah hati ya ^^

    ReplyDelete
  11. sifat sombong akan membawah celaka pada diri kita sendiri.
    ternyata punya mobil enak nggak enak ya..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul bangett..

      punya mobil? udah psti enak dong, hehe --v

      Delete
  12. Yang soal mobil mewah itu, yah wajar mereka marah. Aku juga pernah mengalami. Itu waktu notebook hasil kerja kerasku itu rusak. Sumpah dongkol, apalagi itu alatku buat berkarya. Mungkin si empunya mobil merasa marah gitu, karena mobilnya punya value yang hanya bisa dia lihat; atau yah itu mungkin pembawaannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, atau mungkin juga itu mobil pinjeman jadi takut dimarahin yang punyaaa, hehe --v
      yaa emang wajaar bnget kalau marah, cuma ekspresinya itu lhoo yang 'lucu' :D

      Delete