Wednesday, December 2, 2015

Peresmian Program GeMa CerMat & Bincang Santai Tentang Antibiotik

sosialisasi GEMA CERMAT

Halo hai Kawanii, menyambung tulisan tentang salah satu program dari Kemenkes BinFar AlKes, yaitu GeMa CerMat atau Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat. Tepat di tanggal 27 November 2015, program ini pun diresmikan secara langsung oleh Menteri Kesehatan, Ibu Nila Djuwita F. Moeloek. Bertempat di Gedung Prof Sujudi – Kemenkes, acara ini sekaligus mengundang para stake holder dibidang kesehatan, ibu-ibu PKK terpilih di wilayah Jakarta, perwakilan mahasiswa, dan juga perwakilan teman-teman dari berbagai komunitas.

Sebelum memasuki acara, kami para peserta juga dihibur dengan pertunjukkan tari kecak kontemporer, baru setelahnya, dilanjutkan dengan laporan dari Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (BinFar AlKes), Ibu Maura Linda Sitanggang. Disusul, sambutan dari Ibu Menkes, yang seperti biasa, selalu dibumbui dengan humor disela-sela sambutannya.

Tanpa menunggu lama, akhirnya pencanangan sosialisai GeMa CerMat ini pun resmi dimulai, ditandai dengan pemukulan gong dan pemakaian rompi kepada perwakilan kader secara simbolis oleh Ibu Menkes. Salah satu dari perwakillannya, adalah blogger, Mbak Donna Imelda.

Ibu Nila Moeloek


GeMA CerMat

Selesai acara peresmian, panitia pun memutar sebuah video yang judul "Apa Kata Mereka" dan "Antibiotik". Orang-orang yang ada di video, dipilih secara acak, untuk ditanyai sejauh mana pengetahun mereka tentang antibiotik. Video ini membuktikan, bahwa masih banyak sekali, orang yang menggunakan antibiotik, tapi belum tahu apa manfaat sebenarnya dari obat ini. Manfaatnya aja ngga tahu, apalagi cara minumnya kan? Bisa jadi, banyak masyarakat kita yang menganggap, antibiotik sama kaya obat warung pada umumnya. Bahkan, dari video itu, aku lihat ada orang yang menganggap kalau antibiotik adalah obat segala jenis penyakit *duh

Sebelum berlanjut ke acara selanjutnya, dilakukan juga simulasi CBIA (Cara Belajar Insan Aktif), jadi beberapa peserta terpilih, menunjukkan cara untuk memilih dan mengelompokkan obat sesuai golongan-golongannya. Semua peserta, tampak antusias memperhatikan jalannya simulasi ini. Jadi, kebiasaan baca keterangan yang ada di kemasan obat ini, emang harus dibudayakan yah. Selesai simulasi dan sebelum masuk ke sesi talk show, kami pun kembali dihibur dengan penampilan tari sunda kontemporer.

Tari Sunda Kontemporer

Dr Hari Purnomo

Di tulisan sebelumnya, aku udah nulis sedikit tentang resisten antibiotik akibat dari konsumsi antibiotik secara sembarang. Nah, sesi talk show kali ini, menghadirkan narasumber Bapak Dr. Hari Paraton dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) yang membahas lebih detail tentang bahayanya jika seseorang terkena resisten antibiotik.

Sebelum masuk ke pokok bahasan, Dr Hari, sempat memberi penjelasan singkat tentang bakteri dalam tubuh manusia, yang jumlahnya sangat banyak, mencapai puluhan triliyun! Wow! Tapi, seperti yang kita ketahui juga, bakteri itu gak cuma ada bakteri jahat aja, tapi ada bakteri baik juga. Bersyukurnya, dari puluhan milyar bakteri yanga da di tubuh manusia, sebagian banyak merupakan bakteri baik yang memang dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Beberapa tugas yang bisa dikerjakan bakteri baik dalam tubuh kita adalah, memecah protein, mencerna makanan, stimulasi pembentukan antibodi, menghambat pertumbuhan bakteri jahat dan jamur, juga bertugas untuk membentuk vitamin K dan B. Woh! Memang banyak juga yah gunanya bakteri baik ini. Coba deh bayangin, gimana kalau bakteri baik ini udah gak ada lagi dalam tubuh kita? Siapa lagi coba yang mau bantuin tubuh kita buat ngelakuin tugas-tugasnya bakteri baik ini?

Lantas, apa hubungannya bakteri baik sama antibiotik? Tentu ada banget. Pasalnya, tugas antibiotik kan membunuh bakteri yah? Masalahnya, antibiotik ini gak bisa bedain mana bakteri yang baik dan mana bakteri yang jahat, jadi semua bakteri dilibas habis sama antibiotik. Itulah kenapa, program GeMa CerMat ini mengajak kita untuk bijak dalam penggunaan antibiotik, karena selain beresiko tubuh menjadi resisten antibiotik, salah satu resikonya kita juga bsia kehilangan bakteri baik yang memang dibutuhkan oleh tubuh kita.

Lebih dari itu, saat kita mengkonsumsi antibiotik, di dalam tubuh justru bakteri jahat juga sedang berjuang mempertahankan kekebelannya. Sehingga, saat kita mengonsumsi antibiotik secara setengah-setengah, yang tersisa adalah bakteri jahat yang semakin kebal atau resisten terhadap antibiotik. Berbanding terbalik dengan bakteri jahat yang terus mencari cara agar bisa menjadi kebal antibiotik, pengembangan antibiotik sendiri sudah berhenti sejak lama, yang terbaru itu adalah antibiotik tahun 2000. Makanya, saat ada pasien dengan kondisi sudah masuk golongan resisten antibiotik super atau dengan kata lain, sudah tidak ada lagi antibiotik yang bisa melawan bakteri dalam tubuhnya, hal ini yang menyebabkan konsumsi antibiotik secara sembarang, bisa mengakibatkan kematian.

Jadi, kapan sih sebetulnya kita benar-benar butuh meminum antibiotik ? Antibiotik dibutuhkan pada saat tubuh mengalami infeksi yang diakibatkan oleh bakteri jahat. Karena tugas bakteri jahat dalam tubuh kita memang untuk merusak sel-sel dalam tubuh, dan menyebarkan toksin (racun) sehingga terjadilah infeksi. Inilah alasan kenapa antibiotik harus diminum dengan resep dokter, itu pun harus melalui tahapan tepat, baik secara diagnosa, indikasi penyakit, termasuk dosis, cara dan lamanya pemakaian antibiotik.

Inti yang aku ambil dari talk show hari itu sih, sebisa mungkin kita harus bisa meminimalisir penggunaan antibiotik. Kalau dokter memang gak ngasih resep antibiotik, ya kita gak usah minta dikasih antibiotik. Bahkan, sekali pun dokternya kasih antibiotik, dan kita tahu sakit kita tuh gak butuh antibiotik, ada bagusnya juga kita "nego" gimana kalau resepnya gak usah dikasih antibiotik. Yaa, walaupun kadang suka ada juga sih dokter yang jutek, karena malah menganggap si pasien ini sok tahu soal penggunaan antibiotik -__-

Mengingat, menurut informasi yang aku dapat radang tenggorokan aja sebetulnya gak butuh antibiotik, tapi kenyataannya, pas aku sakit radang tenggorokan dan ke dokter, dokternya kasih antibiotik juga kok, dengan catatan, antibiotiknya harus dihabiskan. Beberapa dari peserta juga ada yang bertanya tentang hal ini, dan Dr Hari, menyatakan program GeMA CerMat ini juga akan bekerja sama dengan para tenaga kesehatan, agar sama-sama bijak dalam pemberian resep untuk antibiotik.

Harapan aku sih, proses sosialisasi program GeMa CerMat ini bisa dengan gencar dilakukan, agar informasi-informasi penting tentang penggunaan obat yang tepat bisa langsung sampai di masyarakat, yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Meski pun akan butuh waktu yang tidak sebentar, apalagi proses penerimaan informasi yang kadang masih banyak diabaikan, tapi setidaknya, dari sekian banyak orang yang mendapat informasi, satu diantaranya bisalah merubah kebiasaan dalam meminum obat.


Salam Sehat, Kawanii ^__^

14 comments:

  1. Gerakan yang bagus karena masyarakat sekarang sangat mudah untuk mendapatkan obat sampai ke pedagang kakilima.
    Jika tidak hati2 maka bisa salah makan obat karena tidak memakai resep dokter
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. hampir semua loh dokter ngasih antibitoik saat periksa anak atau suami...mudah2an setelah program ini diresmikan jd semakin menambah pengetahuan masyarakat tentang antibitoik

    ReplyDelete
  3. iya tuh... radang tenggorokan selalu dapet antibiotik, umum itu di rs mana aja pasti dikasih, trus ada yang jawab gak disana.. knp selalu dikasih antibiotik kalau radang tenggorokan

    ReplyDelete
  4. waahh ini masyarakat harus mendapatkan seminar serupa nih..

    aku juga pengen banyk tahu perihal seperti ini, penting banget

    ReplyDelete
  5. Di daerah saya kok belum ada seminar GeMa CerMat seperti ini ya :)

    ReplyDelete
  6. Bicara soal antibiotik, memang perlu sosialisasi/pengarahan yang lebih intensif tentang cara mengkonsumsi antibiotik yang tepat pada sebagian besar masyarakat kita, terutama yang berada di 'Akar Rumput'. Sering lho saya menemukan orang yang mengkonsumsi antibiotik secara sembarang, gak sesuai dosis. Malah ada beberapa yang saya ingatkan malah seolah dia bilang "Woles aja, Bro, gak apa-apa kok"

    ReplyDelete
  7. Harus disebarkan nieh mbak... tapi banyak juga dokter yang iseng. Saya pernah cuma cek panas aja malah di kasih antibiotik. Cuma flu ringan aja... mana obatnya mahal lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul2.. pdhl dokter dluar negri sih katanya kalo cuma batuk pilek demam blm ada 3 hari ya suruh istirahat total dan hanyak minum air putih aja. Ga dapat obat apa2 apalagi antibiotik..

      Delete
  8. semoga programnya semakin gencar sehingga makin banyak masyarakat yang cerdas dengan obat

    ReplyDelete
  9. Aku pikir memang pakar kesehatan(dokter2) di sini memang kalau sakit harus dikasih obat loh, ternyata bu menkes sendiri mengajarkan harus bijak dalam memakai obat..
    Setuju sekali tuh, harus semakin digencarkan supaya mindset kita berubah..

    ReplyDelete
  10. Waduh selama ini saya salah ya... kalau badan udah mulai terasa ngga enak karena alergi , biasanya saya minum antibiotik yang di beli di apotek... bakteri ada manfaatnya juga ya, tapi kalau tidak minum antibiotik alergi saya ngga sembuh sembuh... ada ngga yah antibiotik yang hanya membunuh bakteri jahat... kasian kalau bakteri "baik" juga ikut musnah karena antibiotik...

    ReplyDelete
  11. Kirain jika minum obat tanpa obat antibiotik tidak bisa sembuh cepat. Ternyata tidak semua harus pakai bantuan antibiotik. Aku salah kaprah. Bahkan aku selalu minta obat antibiotik yang paten alias harga yang super mahal. Pakai generik terasa malu dan meragukan khasiatnya. Jadi tambah ilmu.

    ReplyDelete
  12. Jadi lebih bijak saya, heheee. makasih ya Ran, ulasannya bagus.

    ReplyDelete
  13. makasiiiih kakak rani atas informasinya
    he he he

    da dia mah aktif euy, keren blognya :)

    ReplyDelete