Featured Slider

My Skincare Journey: Akhirnya Nyobain ERHA TruWhite Activator C Serum! Gimana Hasilnya?

ERHA TruWhite Activator Series Review

Ecieee, Rani bahas-bahas skincare :p Eitss, jangan salah. Biarpun masuk jajaran cewek maskulin, gini-gini aku udah lumayan rajin lho kalau soal ngerawat muka. Gak sampai perawatan ke salon sih, apalagi sampai aplikasiin 10 step skincare, gak kuat akutu. wkekeke. Udah bisa rutin setiap hari double cleansing aja aku udah bangga karena sebelumnya ya aku mana paham soal double cleansing.  Aku taunya bersihin muka itu ya cukup dengan cuci muka aja pakai facial wash. Pun termasuk penggunaan sun screen, dulu mana ngerti kalau pakai sun screen itu hukumnya WAJIB! Hehehe.

Jadi, perjalananku sama skincare itu dimulai dari, cuma cuci muka terus pakai moisturizer. Kemudian naik kelas dengan ditambah pakai sun screenSetelah sekian lama, baru deh mulai rutin double cleansing pakai micellar water sebelum cuci muka pakai facial wash. Tapi seringnya aku double cleansing cuma malam aja sih, sebelum cuci muka pas mau tidur.

Setelahnya, aku baru naik kelas lagi itu sekitar 6 bulan lalu. Mulai cobain rutin pake toner setiap kali selesai cuci muka, sebelum aplikasiin krim. Sejauh ini, aku ngerasa wajahku jadi keliatan tambah seger juga lembab setiap selesai aplikasiin toner. Sebelumnya sih kerasa agak kering gitu tiap abis cuci muka.

Deteksi Gejala Penyakit Kini Lebih Mudah Dengan SehatQ.com


Deteksi Gejala Penyakit Kini Lebih Mudah Dengan SehatQ.com

Jarang sakit, tapi sekalinya sakit pasti rewel, itulah AKU. Hehehe. Kata ibu, dari kecil aku emang jarang banget sakit dan itu berlangsung sampai aku dewasa. Tapi makin sini, kerasanya kok malah makin gampang sakit, huhu. Entah faktor usia yang makin bertambah angkanya atau emang faktor akunya aja yang kurang bisa jaga kesehatan.

Secara sadar, aku mengakui sih kalau gaya hidupku emang masih jauh dari kata hidup sehat. Masih suka banget sama makanan-makanan ngga sehat, masih hobi cemal cemil, kurang olahraga, dan masih suka begadang. Hal-hal itu masih mendominasi, meski dicoba terus buat dikurangin.

Efeknya, yang paling sering aku rasain itu jadi gampang banget yang namanya masuk angin dan sakit kepala. Kadang, kalau pas sakit kepalanya kambuh, aku tuh suka kepikiran macam-macam. Kaya takut kena sakit yang serius gitu, lho. Apalagi kalau sakit kepalanya intens banget yang sampai berhari-hari.  Udah ngga kehitung berapa kali meniatkan diri buat periksa ke dokter, tapi masih belum juga sampai sekarang. Karena aku merasa sakit kepalanya emang masih bisa ditanganin pake obat warung. (obat warung= obat yang dijual bebas di pasaran maksudnya ya, hehe)

Weekend Getaway CFD Sambil Kulineran di Bogor Bareng OPPO Reno


Weekend Getaway CFD Sambil Kulineran di Bogor Bareng OPPO Reno

Weekend? Apa itu weekend? Sejak kapan Rani kenal yang namanya weekend? Wkekeke. Tentu aja sejak resmi menyandang status jadi anak kantoran dong! #cieee Aku emang belum banyak cerita ya di blog ini kalau selama hampir 4 bulan terakhir ini aku ngantor. Nanti ya aku ceritain lengkapnya. Yang jelas, selama ngantor otomatis hidupku kembali berjalan normal. Tidur malam dan bangun pagi, ngga kebalik lagi :)

Tapi, dampaknya, setiap libur kerja alias weekend aku selalu menghabiskan hari buat ZzZzzZ alias tidur. Nyaris seharian di Sabtu dan Minggu kerjaanku cuma tidur dan makan, huhu.

Awalnya sih OK OK aja, tapi lama-lama kok berasa ngga faedah juga kalau tiap weekend cuma dipakai buat tidur. Tapi gimana dong, setiap weekend rasanya tubuh melemah dan kasur terasa semakin posesip! Hehe Cuma emang kasian Ibu kalau tiap weekend kerjaanku cuma tidur, sementara Ibu inginnya diajak pergi. Yaaa minimal diajak CFDan lah ke Taman Sempur, senam-senam lucuk gitu. Akhirnya, hari Minggu (7/7) lalu aku menekadkan diri buat ngajak Ibu CFDan sambil kulineran. 

Menengok Keseruan Festival Literasi Sekolah 2019


Halo hai Kawanii, akhir bulan Juli lalu, tepatnya di hari Jumat, 26 Juli 2019, aku berkesempatan untuk hadir di acara pembukaan Festival Literasi Sekolah 2019. Bertempat di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Jakarta, sekitar jam 10 pagi acara resmi dibuka secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Muhadjir Effendy. Dalam sambutannya, pak menteri sempat bilang kalau tingkat literasi di Indonesia ini masih sangat rendah. Hmm, rasanya ini bukan kali pertama aku dengar pernyataan ini.

Iya kah mayoritas orang Indonesia ngga suka baca? Tapi, masih menurut pak menteri, justru kalau soal membaca Indonesia ini udah bisa dibilang sangat baik. Indonesia sudah masuk dalam kelompok gemar membaca hanya saja tingkat pemahamannya yang masih belum baik. Dari sini, aku mulai paham satu hal, kalau ternyata yang dimaksud literasi itu bukan sekadar membaca dan menulis tapi lebih ke kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami apa yang dibaca. Dengan pemahaman yang baik tentu akan jadi “modal” yang bagus untuk seseorang.

Seperti yang aku kutip dari Wikipedia, National Institut for Literacy menjelaskan bahwa “literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan , keluarga, dan masyarakat” Kalau gitu, seharusnya literasi bukan lagi jadi satu hal yang asing buat kita ya? Karena pada dasarnya literasi udah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari, cuma ya itu perlu ditingkatin lagi aja.

Dan salah satu upaya Kemendikbud dalam meningkatkan semangat literasi dikalangan pelajar adalah dengan digelarnya Festival Literasi Sekolah (FLS), yang tahun ini merupakan penyelenggaraan FLS yang ke-3. Layaknya acara festival pada umumnya, Festival Literasi Sekolah juga berisi ragam acara menarik yang tentunya sayang buat dilewatkan, terlebih buat para pegiat literasi.

Jadi, selama acara Festival Literasi Sekolah berlangsung dari 26-29 Juli 2019, ada 2 kegiatan utama yang diselenggarakan. Yang pertama, ada LOMBA LITERASI. Awalnya aku kira lomba literasinya ini cuma untuk anak SMA/MA, tapi ternyata lombanya mencakup semua jenjang pendidikan. Dari mulai SD, SMP, SMP, SMA/MA, SMK, sampai Pendidikan Khusus/SLB juga ada lombanya. Untuk jenis lombanya sendiri cukup beragam, seperti, Lomba Cipta Syair Digital, Lomba Cipta Cerpen, Lomba Cipta Komik Digital, Lomba Cipta Meme, ini jenis lomba untuk SMA.

Pendaftaran lombanya sendiri sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu via online. Siswa mengirimkan karya ciptaan mereka sendiri dengan membawa nama sekolah. Siswa/i yang lolos seleksi online, baru dilombakan lagi secara langsung di event Festival Literasi Sekolah. Makanya, untuk perlombaan FLS 2019 diadakan di beberapa lokasi sekitar Jabodetabek.

Yang kedua, Festival Literasi itu sendiri yang digelar di Plaza Insan Berprestasi – Kemendikbud, Jakarta. Jadi, ada apa aja di Festival Literasi Sekolah 2019?

1. Pameran Literasi


Merupakan upaya sosialisasi program, kegiatan, dan atau praktik, baik literasi dari lembaga, komunitas, dan satuan pendidikan. Ada juga  sosialisasi produk literasi yang dipamerkan. Ada banyak stand literasi yang bisa teman-teman temui di sini yang dibagi menjadi beberapa area, area sekolah dari mulai SD sampai SMA juga SMK, stand Pendidikan Kebutuhan Khusus lengkap dengan karya literasi yang dipamerkan. Selain itu ada stand unit utama Kemendikbud yang bagi-bagi buku gratis buat setiap pengunjung yang isi buku hadir.

Di beberapa sudut lain, aku sempat liat ada beberapa stand komunitas, stand lukisan, stand aplikas, dan yang ngga kalah penting, ada stand beberapa penerbit dengan hamparan buku-buku menarik di setiap lapaknya. Bukan cuma buku pelajaran, buku novel sampai buku anak juga ada dan lucu-lucu bukunya. Duh. Banyak yang bisa dijelalatin deh pokoknya kemaren tuh di FLS 2019 :))

Stand sekolahnya juga ngga kalah menarik sih. Dari sekian banyak stand sekolah yang aku datangi, ada yang paling menarik perhatian. Yaitu, stand yang ditunggui gadis manis dengan jejeran madu dalam toples kecil di atas meja.

Ulik punya ulik, ternyata anak gadis manis yang sempat kasih penjelasan panjang lebar itu rupanya seorang penemu! Tepatnya seorang penemu alat pendeteksi madu. MasyaAllah, canggih banget yak. Anak SMP (si adek sekarang udah SMA, btw) udah bisa bikin sesuatu yang berguna dan bermanfaat. Bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga bisa bermanfaat buat orang lain. Karena alatnya dijual dengan harga yang sangaaat terjangkau, sekitar 50rbuan aja.

Menurut ceritanya, awal mula sampai kepikiran bikin alat pendeteksi madu itu karena sewaktu di pesantren banyak teman-temannya yang bawa madu, dan bikin dia jadi penasaran pengin tau tingkat kemurnian madunya itu. Saat itu, sebetulnya alat pendeteksi madu itu udah ada cuma harganya masih lumayan mahal gitu. Akhirnya, dia kepikiran deh buat bikin sendiri alatnya. Kreatif banget ya!

Mungkin, literasi semacam ini yang diharapkan untuk bisa tumbuh dalam diri setiap anak Indonesia.

2. Festival Literasi

Selain pameran, rangkaian kegiatan Festival Literasi Sekolah (FLS) 2019 lainnya itu ada diskusi interaktif, pelatihan, peluncuran dan bedah buku yang mencakup enam literasi dasar yaitu baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, juga budaya dan kewargaan.

Kalau aku lihat dijadwalnya sih, narasumber dan tema diskusinya menarik-menarik. Sayangnya hari itu aku belum sempet nyimak satupun diskusinya karena cuma izin setengah hari, huhu. Untungnya, masih bisa nyimak selewatan diskusinya lewat cuitan teman-teman di Twitter.

Jadi, siapa nih yang rencana datang ke Festival Literasi Sekolah tahun depan? :D

Properti Ini Sangat Potensial untuk Dikembangkan di Bogor

Foto dari Wikipedia

Bogor menjadi salah satu wilayah penyanggah Ibukota dengan nuansa berbeda dan syarat dengan beragam fasilitas penunjang kehidupan. Selain dua faktor tersebut, Bogor juga menyediakan beragam lahan investasi yang dapat digeluti oleh masyarakat.

Sama seperti di Ibukota, sektor properti adalah sektor paling potensial yang diketahui dapat sangat menguntungkan.

Tidak heran, banyak developer proyek-proyek rumah dijual di Bogor atau properti lainnya yang secara masif mengembangkan pilihan hunian di Bogor. Apa lagi ditambah permintaan hunian di Bogor yang tidak pernah sepi peminatannya.