Tuesday, October 25, 2016

Mengintip Dibalik Layar Drama Musikal Khatulistiwa


Halo hai Kawanii, setelah awal Oktober lalu, berkesempatan untuk hadir di acara presscon Drama Musikal Khatulistiwa (silakan baca reportase acaranya di sini). Berselang dua minggu, aku dapat kesempatan lagi, buat menyaksikan langsung proses latihan para talent Drama Musikal Khatulistiwa, yang akan pentas November 2016 nanti! Yeaaay! Siap-siap yaaa gaes, November sebentar lagi lhooo.

Sore itu, Selasa, 18 Oktober 2016, Aku dan beberapa rekan blogger sampai di pelataran gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan – Jakarta. Memasuki gedung Auditorium, suasana sudah ramai dengan berbagai aktifitas. Ada yang sedang latihan vokal, ada yang latihan nari, macam-macam deh.

Suasana itu, mengingatkan aku ke beberapa tahun yang lalu. Pernah juga ikut latihan nari buat mengisi sebuah acara besar di salah satu Mall di Jakarta. Hampir tiap hari bolak balik Bogor – Jakarta bawa motor buat latihan. Capek sih, tapi seruuuu. Sayangnya, waktu itu aku gak ikut sampai akhir sih, karena satu dan lain hal harus off ditengah jalan.

Ikut acara kaya gini emang gak bisa sembarangan, perlu konsistensi buat latihan dan butuh waktu yang gak sebentar juga. Apalagi, buat pertunjukkan sekelas Drama Musikal Khatulistiwa yang melibatkan 100 talent plus membawa pesan sejarah juga, tentunya butuh persiapan yang gak main-main.

Benar aja, para talent Drama Musikal Khatulistiwa, perlu menyisihkan waktunya seminggu dua kali, yaitu setiap Selasa dan Kamis untuk berlatih dari jam 7 sampai jam 11 malam. Hebatnya, para pemain drama ini kan gak cuma orang dewasa, tapi anak-anak juga ikut berlatih di waktu yang sama! Wooh, perjuangannya perlu diapresiasi yaaa.


Nah sore itu, aku, teman-teman blogger dan juga para tamu undangan lain, yang terdiri dari beberapa siswa SMA di Jakarta, guru sejarah, juga beberapa mahasiswa Universitas di Jakarta yang menyukai seni drama theater. Karena, selain akan menyaksikan para talent latihan, sore itu kita juga diberi kesempatan buat ikut mini-workshop dari drama musikal khatulistiwa ini. Tapi sebelum mini-workshop dimulai, ada sharing sesion terlebih dulu dari kang Asep Kambali, sejarawan, yang juga merupakan founder dari komunitas Historia Indonesia.

Jadi, peran kang Asep di drama musikal khatulistiwa ini tidak lain, untuk membantu para pemain agar bisa menjiwai karakter pahlawan yang dimainkan dengan tepat. Karena, menurut Kang Asep, kegagalan film-film berlatar sejarah di Indonesia, itu dikarenakan penokohannya yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan keadaan para pahlawan pada saat diperankan.


Kang Asep juga menyadari, hal-hal yang menyangkut sejarah, jarang diminati masyarakat Indonesia. Makanya, beliau sangat mengapresiasi adanya Drama Musikal Khatulistiwa ini, karena dirasa sangat efektif untuk mengenalkan sejarah pada anak-anak dengan cara yang asik dan menyenangkan.

Sharing sesion dari Kang Asep sore itu juga sukses mengurek-ngurek rasa nasionalisme semua yang hadir sampai ke-akar-akar. Gimana ngga, kalau ditanya nama pahlawan aja, mungkin kita cuma bisa nyebutin beberapa nama yang familiar. Sisanya? Pasti bingung! Itu pun, untuk pahlawan dengan nama familiar, kita juga belum tentu tahu sejarah atau latar belakang dari pahlawan tersebut.

Contohnya, nih, familiar dong sama nama pahlawan TB Simatoepang? *yang tinggal di Ibu Kota pasti familiar banget ya* Pas ditanya apa kepanjangan dari nama TB, beberapa menjawab, kepanjangannya adalan Tubagus, padahal TB Simatoepang ini bukan orang Banten lho. Nah kan? Salah kan ternyata ya! Ternyata, kepanjangan dari nama TB Simatoepang itu adalah Tahi Bonar. Satu lagi, yang aku baru tau, kalau ternyata Rasuna Said itu adalah pahlawan perempuan! Aku selama ini sih mikirnya, Rasuna Said itu laki-laki. Hufft.

Kang Asep juga bilang, rasa nasionalisme sebetulnya bisa diukur. Contoh sederhananya, kalau ditanya apa arti dari Indonesia? Aku yakin deh belum banyak yang tahu apa artinya *termasuk aku* Pun begitu kalau ditanya apa arti Pahlawan? Aku juga belum tahu -__- Jadi selama ini aku suka koar-koar Cinta Indonesia, tapi sama sejarah bangsa aja aku cueknya kebangetan, apa artinya? *Aslian makjleb banget lah sharingnya Kang Asep sore itu.

Gak terasa, adzan magrib pun berkumandang. Kita para undangan dipersilakan untuk sholat dan makan. Selesai ishoma, ruang auditorium yang tadi berisi kursi-kursi sudah berubah jadi ruang untuk berlatih. Dan di satu sudut, berlangsung juga kegiatan mini workshop, dari koreografer, penata musik dan juga desainer yang merancang kostum untuk para pemain drama musikal khatulistiwa ini.

Hadir juga, sutradara dari Drama Musikal Khatulistiwa ini, Mas Adjie N.A dari Pegho Teater, yang menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para pemain diwal-awal latihan. Karena, ini kan drama musikal yah, jadi udah pasti dialog juga dibawakan dengan cara bernyanyi.


Kalau sharing dari Mas Auguste Susastro, beliau menjelaskan tentang perbedaan pembuatan kostum untuk drama ini. Yang pasti, kostum yang dibuat haruslah yang mudah dilepas, karena saat pertunjukan nanti, para pemain dituntut untuk begerak cepat, termasuk berganti kostum dengan cepat juga.

Selain itu, ada Mas Fabie dari Sunlife Indonesia, yang kasih info soal lomba yang diadakan Sunlife. Yaps, masih dengan info lomba yang sama seperti yang udah aku tulis di blogpost sebelumnya. Tentang #Aksidarihati Teman-teman bisa cek info lengkapnya di sini.

Selesai sesi mini-workshop, acara latihan gabungan pun dimulai!


Pertama, sesi latihan untuk kisah perjuangan Raden Dewi Sartika, tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dari mulai adegan Dewi Sartika kecil, yang sudah hobi berperan sebagai guru sejak umurnya 10 tahun. Setelah dewasa Dewi Sartika juga membuka sekolah dengan materi pengajaran, seperti memasak, merenda, menulis, dan lain sebagainya. Dewi Sartika dewasa diperankan oleh Teh Sita (RSD, salah satu vokalis AB3). Selain itu, Ada Kang Epi Kusnandar juga, yang berperan sebagai salah satu warga desa.


Setelahnya, sesi latihan untuk sejarah perjuangan HOS Tjokroaminoto yang diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana, yang aktingnya kereen dan dapeeet banget! Ada juga Ade Firman Hakim, yang berperan sebagai Patih Jelantik, pemimpin pasukan perang melawan penjajah yang berasal dari Karangasem, Bali.

Sayangnya, aku cuma bisa nonton sesi latihan sampai jam 9 malam aja, soalnya Bogor masih jauuuh boo'


Nah, buat teman-teman yang berencana buat nonton Drama Musikal Khatulistiwa ini di 19-20 November 2016 nanti, buruan deh beli tiketnya sebelum kehabisan yaa. Tiket cuma bisa didapat di kiostix.com, buat pengguna CIMB niaga, bisa dapat diskon juga lho.

Jangan lupa ajak anak, adik dan seluruh keluarga buat nonton. Biar bisa mengenang lagi jasa para pahlawan dan sejarah bangsa. Inget lho, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya ^^

Foto dari Teh Ani Berta

12 comments:

  1. Pengen nonton jadinya, Mbaakk. Huhuhu. Andaikan Jakarta tuh tinggal ngesot. Keren yaa drama musikal khatulistiwa ini. Merinding sekaligus bangga :)

    ReplyDelete
  2. Dulu waktu SMK saya seneng bermain drama musikal gitu mbak, hehe kayak dapet kebahagiaan sendiri

    ReplyDelete
  3. "Jadi selama ini aku suka koar-koar Cinta Indonesia, tapi sama sejarah bangsa aja aku cueknya kebangetan, apa artinya?"

    LHA INI. Makjleb dan langsung bikin jadi liat diri sendiri.. :)

    ReplyDelete
  4. ini yang bareng temen2 ya, seneng banget bisa nonton live dibalik panggungnya

    ReplyDelete
  5. baru nyadar ya seberapa jauh pengetahuan kita tentang sejarah haahaha. Hayuklah nonton.

    ReplyDelete
  6. Drama musikal aku suka bangettt, dah lama ngga nonton beginian :(

    ReplyDelete
  7. Ini pasti persiapannya mateng banget ya mbak, waktu dlu persiapan drma kelas aja harus bener2, apalagi yang beginian, lebih kali ya mbak..

    ReplyDelete
  8. pasti acaranya keren.... kayaknya yang main juga pemain-pemain terkenal kan ya. Seru pastis

    ReplyDelete
  9. tulisannya menyentil saya yang ternyata masih dangkal pemahaman tentang negaranya sendiri tapi udah berasa paling nasionalis.

    harus sering ada nih drama-drama musikal bernuansa sejarah agar belajar sejarah menjadi menyenangkan.

    ReplyDelete
  10. Loh bukan Tubagus ya? salah lagi..hihii Aku sering lewat TB Simatupang

    ReplyDelete
  11. saya sendiri lebih suka dengan drama bertemakan sejarah jaman dulu jaman kerajaan di indonesia.. sampe-sampe bikin di sekolah. hehe
    pengennya sih bikin lagi cuman sayang udah gak sekolah lagi :D

    ReplyDelete
  12. Jadi ingat waktu SMP dan SMA dulu sering latihan drama untuk lomba.
    Mbak Nova senang drama juga ta Mbak?
    thank dan salam kenal

    ReplyDelete