Tuesday, October 23, 2018

#HydrationTalk: Apa Pentingnya Baca Label Kemasan?

#HydrationTalk: Apa Pentingnya Baca Label Kemasan?

Halo hai Kawanii, siapa di sini yang kalau makan senengnya ditemenin minuman manis? Sampai setahunan lalu, es teh manis masih jadi minuman favorit aku buat nemenin makan. Ngga selalu sih, tapi lumayan cukup sering. Apalagi, kalau cuaca lagi terik-teriknya, nemu es atau minuman dingin tuh berasa surga banget, ya kan? Dulu, Aku bisa loh ngabisin 2 botol minuman teh kemasan sekaligus. Belum lagi, aku juga suka banget sama yang namanya ngopi, kopinya kopi kemasan pun :s

Kalau dipikir-pikir sekarang, ya wajar BANGET sih kalau setahun kemarin berat badan aku melonjak drastisss. Dari minuman aja, udah keliatan berapa banyak gula yang aku konsumsi setiap hari. Dan IYA, itu teh baru dari minumannya aja belum ditambah konsumsi gula dari makanan. Fyuh. Kalau ditotal, udah pasti jumlahnya jauh banget dari takaran ideal konsumsi gula, garam, dan lemak per hari yang dianjurkan KEMENKES.
Iya, yang itu lho, G4, G1, dan L5. Gula 4 sendok makan/50gr, garam 1 sendok teh/5gr, lemak 5 sendok makan/67 gr. See? Dari minuman aja kayanya aku udah konsumsi gula lebih dari 4 sendok makan per hari kan. Huft.

Untungnya, kebiasaan itu udah berhenti sejak setahun terakhir ini. Aku udah ngga pernah lagi makan ditemenin es teh manis, malah waktu awal-awal banget cut carbo aku ngga minum teh atau kopi kemasan sama sekali. Yang agak susah itu nahan beli thai tea aja, soalnya aku suka bangettt kan. HAHA Jadi sesekali masih suka nyolong-nyolong minum thai tea :p

Green Tea & Vanilla Latte
Kira-kira berapa kalori dari 2 minuman manis ini ya?
Terus makin ke sini, tingkat "bandel"nya makin nambah juga sih (apalagi setelah sukses turun beberapa kilo, kan semacam ngasih reward buat diri sendiri gitu kan *alibi syekalii). Cuma, sekarang jadi lebih tau "aturan" aja sih. Ngga sesering dan sebanyak dulu minumnya, udah bisa auto-ngerem lah, kecuali kalau lagi khilaf *eh gimana :v

Btw, di postingan sebelumnya, aku udah sempat bahas tentang kunci pola hidup sehat yang sebetulnya cuma 1 itu (1 ge susah, bro :p). Kuncinya adalah, kalori yang keluar harus lebih banyak dari kalori yang masuk. Nah, tapi, biasanya, orang cuma fokus menghitung kalori yang masuknya dari makanan aja, sementara dari minuman lupa dihitung. Kalau kata Profesor Ujang Sumarwan, Ahli Consumer Behaviour dari IPB, di acara #HydrationTalk yang diselenggarakan Danone Indonesia beberapa hari lalu sih, "Kita cenderung minum berdasarkan rasanya yang disukai sehingga tidak memperhatikan kandungan nutrisi terutama gula". Padahal, kalau ngga dihitung, terus tau-tau banyak dan menumpuk, kaya kasus aku di atas itu, kan bisa bahaya juga! Makanya, selain pola makan, pola minum juga perlu buat diperhatikan.

Mineral water | Pic by Pixabay
Salah satunya dengan memperhatikan kebutuhan air mineral untuk tubuh setiap harinya. Dan ternyata, kebutuhan air setiap orang itu berbeda-beda lho, selama ini kan kita taunya intinya tuh 8 gelas sehari ya. Kalau versi kemenkes tuh, 8 gelas sehari untuk pria, 7 gelas untuk wanita, 6 gelas untuk anak-anak, 7(+1) gelas untuk ibu hamil, dan 7(+3) gelas untuk ibu menyusui. Kabar baiknya, di tahun 2016, pola minum air mineral di Indonesia udah meningkat dibanding tahun 2012. Tapi, ternyata, ngga cuma pola minum air mineral yang meningkat, tapi pola minum minuman kemasan yang mengandung gula juga ikut meningkat.

Sebetulnya, menurut Prof Ujang, minum minuman kemasan yang mengandung gula itu ngga apa-apa kok, asal sesuai batasan dan kita tau pasti kandungan nutrisi dan kalorinya. Makanya, baca label informasi nilai gizi di kemasan makanan atau minuman itu SANGAT PENTING. Terutama buat produk minuman siap saji yang terkadang terlihat ringan namun tidak sesuai dengan kebutuhan kita. 

Karena, ada juga lho minuman yang dikemas dalam 1 botol tapi penyajiannya tertulis untuk 2 sajian. Kalau ngga teliti baca, pasti kita berpikir 1 botol itu isinya untuk sekali minum. Sementara, misal 1 sajiannya mengandung 22gr gula. Kalo kita minum sekaligus, artinya, kita sudah mengkonsumsi 44gr gula hanya untuk 1 jenis minuman aja.

Teliti sebelum membeli
Makanya nih, menurut Dr. Rimbawan, Ahli Gizi dari IPB, "Jika  konsumen memilih untuk mengkonsumsi minuman dalam kemasan, artinya konsumen harus lebih cermat dalam memilih alternatif minuman yang lebih sehat. Salah satu caranya dengan menjadi konsumen yang cerdas dengan memperhatikan takaran saji, kandungan gizi dan nutrisi yang terkandung di dalamnya". Toh, bukan hal yang sulit juga buat menemukan informasi ini karena semuanya tertera di dalam box Informasi Nilai Gizi yang ada pada kemasan makanan dan minuman, kan. Tinggal kitanya aja sik, mau apa ngga buat baca. Dan, mau apa ngga buat ngikutin. Pilihan ada di tangan kita, gaes!

Selain itu, 1 hal lagi nih yang menurutku penting buat dicatat dari acara #HydrationTalk kemarin adalah, begitu meningkatnya gula dan garam otomatis kita juga butuh konsumsi air mineral yang lebih banyak. Semacam buat netralisir gitu kali ya? Intinya sik, harus seimbang aja ya. Karena kan apa-apa yang berlebihan itu nda baik. Cinta aja kalau berlebihan efeknya ngga baik, apalagi kalori kan? *ehh


Tapi jujur ya, kelebihan kalori ini tuh aslinya sering disepelein sih. Contohnya aku, bertahun-tahun anteng aja nimbun kalori, karena selama ini ngerasanya sih baik-baik aja. Kenyataan yang seringnya terlewat buat dipedulikan adalah, efek kelebihan kalori itu emang ngga langsung keliatan. Kaya diam-diam "mematikan". Kelebihan kalori yang terus menerus dalam jangka panjang ini bisa mengakibatkan kelebihan berat barat (overweight dan obesity). Dan, seperti yang kita tau, obesitas itu bisa menimbulkan beberapa komplikasi penyakit serius, seperti hipertensi, jantung, dan diabetes. Apalagi buat aku yang ada riwayat diabetes juga dari Ibu, jadi harus 2 kali lebih waspada.

Dan ngga bisa dipungkiri juga, kelebihan kalori ini tentu dipengaruhi dari gaya hidup. Dari mulai, tren kulineran sampai tren mukbang. Belum lagi, didukung kemajuan teknologi yang membuat segalanya kian mudah. Ditambah, banyaknya tawaran promo menarik yang mendorong kita untuk "jajan" wkekeke. Dan semua ini, di"sempurna"kan lagi dengan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini tentu sesuatu yang harus ditangani dengan serius, karena kalau ngga, bisa berakibat meningkatkan resiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.


Terkait hal ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga sudah megeluarkan panduan makan bergizi seimbang atau yang dikenal dengan "Isi Piringku". Isi Piringku ini sebetulnya pembaharuan dari panduan gizi seimbang yang dulu kita kenal dengan 4 Sehat 5 Sempurna. Komponen Isi Piringku ini diantaranya, 2/3 porsi karbohidrat, 1/3 porsi protein dan lemak (lauk pauk), dan 1/2 porsi berisi sayur dan buah. Dilengkapi dengan, anjuran untuk membiasakan cuci tangan pakai sabun, aktivitas fisik 30 menit per hari, dan minum air 8 gelas per hari atau sesuai kebutuhan tubuh.

No comments:

Post a Comment