Wednesday, November 25, 2015

2 Hari Penuh Kesan Di MI Ciherang Bareng KFP

Komunitas Filantropi Pendidikan

Halo hai kawanii, kalau di cerita sebelumnya, aku udah menyentil sedikit tentang kondisi minimnya sarana sanitasi di daerah Pandeglang. Kali ini aku mau cerita sedikit tentang kondisi sekolah yang menjadi tujuan kami datang ke sini, MI Ciherang, yang ada di Desa Ciherang, Cibaliung, Pandeglang-Banten. Selintas, gak ada yang aneh dari sekolah ini, cuma kalau dihitung jumlah kelas, kelas di sini emang terbilang lebih sedikit. Biasanya, satu sekolah itu kan punya 7 ruangan ya? 6 ruangan untuk kelas (dari kelas 1-6), satu lagi untuk ruang guru.

Nah, di MI Ciherang ini, aku cuma lihat ada 4 ruangan aja! 1 untuk ruang guru, dan sisanya? 3 ruang kelas, yang diisi untuk 2 kelas sekaligus! Ya memang sih, jumlah murid di sini per kelasnya ngga terlalu banyak, jadi mungkin masih efektif biarpun kelasnya digabung. Bagusnya sih, masih ada semacam perpustakaan kecil di selah-selah ruang guru, seenggaknya mereka masih bisa nemu "Jendela Dunia" di sana.

Pagi itu, hari Minggu (16/8), setibanya aku dan teman-teman di MI Ciherang, kami disambut gembira anak-anak dan mereka menyalami kami satu per satu. Buat teman-teman lain yang berprofesi guru, hal ini sih biasa yah, tapi buat aku yang bukan seorang pengajar, rasanya istimewa aja gitu.

Sebelum acara perlombaan dimulai, anak-anak diminta masuk ke ruang kelas masing-masing untuk pendataan peserta lomba. Aku bareng Ka Fido dan Listy, masuk ke kelas 3 dan 4. Sisanya di 2 kelas yang lain. Di dalam ruang kelas, Ka Fido yang memulai perkenalan ke anak-anak, sementara aku? Sibuk merhatiin setiap sudut dari ruangan yang cukup memprihatinkan itu.

Beberapa bagian tembok kelihatan retak, sebagian lain cuma berdinding bilik bambu, yang itu juga gak terpilin sempurna alias bolong. Langit-langitnya tanpa eternit, dengan pemandangan tulang-tulang kayu yang berjajar tampak rapuh. Pun begitu dengan atapnya, beberapa genteng bergeser dari barisan, yang bisa dipastikan kalau hujan, air bebas membasahi ruangan ini.

MI Ciherang Pandeglang Banten
credit pic : Mas Angger
Selain itu, ada meja dan kursi yang berjajar tak beraturan. Aku yakin deh, meja dan kursi di sini perlu kerja keras demi bisa menampung 3 anak sekaligus, karena jumlahnya yang terbatas. Tapi, biar gimana pun kondisinya, di sini lah tempatnya adik-adik Desa Cibaling mengenyam pendidikan pertama mereka. Di sini juga lah, tempat mereka melukis cita-cita, jika besar nanti mau jadi apa...

*Deg, pertanyaan itu juga lumayan menusuk buat aku yang tiba-tiba 'ditodong' buat ikutan cerita tentang cita-cita. Hiks. Sampai mikir keras aku waktu itu, apa yah cita-citaku? Duh payah banget sih kepala dua masih gak tahu mau jadi apaan! Haha.

Credit pic : Mak Fadlun
Dan pengalaman pertama ngomong di depan adik-adik ini, aseli bikin merinding parah! Bukti nyata, kalau aku ini orangnya maluan banget! *duh Jadi ingat, dulu pernah kepikiran pingin ikut acara semacam kelas inspirasi gitu, tapi karena kebentur gak punya profesi yang jelas, jadi aku gak pernah ikutan daftar. Sejak pulang dari Pandeglang ini, rupanya aku emang harus mikir 1000 kali buat ikutan acara-acara kaya gitu. Karena selain emang maluan, aku juga menyadari kayanya gak ada bakat buat jadi guru, buktinya, sekali dapat kesempatan buat ngomong depan adik-adik aja malah mati gaya *tepokjidat

Selesai perkenalan dan pendataan, langsung deh kita mulai perlombaannya. Standar lomba 17an aja sih, kaya balap karung, balap kelereng, balap makan kerupuk, masukin paku ke dalam botol, balap mindahin bendera, sampai balap mecahin air. Semuanya seru-seruan aja sih, bahkan aku dan teman-teman KFP juga sempat ikutan jadi peserta lomba. Bahagia banget rasanya bisa berbagi tawa bareng adik-adik di sana, mereka juga keliahatan seneng banget sama perlombaan yang kita adain, alhamdulillah ^^

Cerita dari MI Ciherang
credit pic : Mas Angger
MI Ciherang
credit pic : Mas Angger
Setelah acara perlombaan, agak sorenya ada sesi membuat hiasan kelas bareng adik-adik. Jujur ya, kalau soal ngajar mengajar kan sesuatu, aku orang yang paling gampang kena sindrom minder. Iya, ngerasa waktu sekolah gak pinter, ngerasa juga waktu sekolah belajarnya mau-mau ngga-ngga, jadi mungkin wajar kalau aku cepat minder karena beneran ngerasa fakir ilmu *fiuh Apalagi kalau ngajarinnya sesuatu yang berhubungan sama kreatifitas, sadar diri duluan deh, aku mah gak masuk kriteria orang kreatif.

Tapi ternyata, buat adik-adik di MI Ciherang, secuil ilmu dan kreatifitas yang aku punya, bisa keliatan ada gunanya lho. Cuma ngajarin adik-adik bikin burung-burungan dari kertas warna doang, keliatannya mereka seneng banget gitu diajarin. Dan pas salah satu dari mereka ada yang berhasil bikin itu burung-burungan, rasanya tuh kaya... *duh susah jelasinnya! Pokoknya ikutan seneng aja lihat usaha mereka niru step by step cara ngelipet kertas warnanya :v Apa yang mereka dapat dari aku, mungkin gak terlalu bermanfaat. Tapi, apa yang aku dapat dari mereka, justru besar banget manfaatnya. Makasih yaa adik-adik ^^

anak-anak MI Ciherang
credit pic : Mas Angger
Malamnya, teman-teman KFP juga mengadakan nonton bareng nih di lapangan sekolah. Modal spanduk bekas, jadilah semacam layar tancep darurat, dan kita nonton film Laskar Pelangi. Aku sempat mikir, lah, ini film kan udah berkali-kali diputer di TV yah? Tapi, pas aku tanya satu-dua adik-adik yang nonton, mereka malah baru nonton sekali ini lho. Waah, pantes aja mereka kelihatan serius nonton filmnya. Selesai nonton, kita masih lanjut acara api unggun, dan ini juga gak kalah seru, soalnya sambil main lempar kata gitu.

Gak kerasa, hari udah hampir tengah malam aja. Selesai acara nonton dan api unggunan bareng adik-adik, aku dan yang lain kembali ke penginapan. Sementara, beberapa warga masih asyik di depan layar sambil nonton film The Raid. Sebenarnya aku masih betah di lapangan itu, karena bisa tiduran sambil lihatin bintang-bintang yang malam itu lagi penuh banget di langit. Tapi apadaya, besok harus bangun pagi-pagi buat ikut upacara, bye-bye deh bintang di langit ditarik ngajuralit.

MI Ciherang

Pagi harinya, Senin (17/8), kami kembali ke MI Ciherang untuk mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan, yang baru pertama kalinya buat adik-adik MI Ciherang. Waah, ini juga upacara pertama buat aku, sejak lulus SMA 5 tahun yang lalu. Yang bikin upacara ini berkesan buat aku, karena upacara kali ini aku gak ada di barisan para siswa, tapi ada di baris sejajar sama guru di sana. Huaaa, pengalaman yang benar-benar mengesankan banget!


Ohiya, sebelum upacara, sebetulnya ada insiden kecil yang terjadi. Seorang teman ternyata ada yang alergi sama semut hitam, dan secara ngga sengaja dia 'ketemu' sama itu semut pas lagi mandi. Akhirnya, dia harus dibawa ke puskesmas, yang jaraknya lumayan jauh juga dari sana. Jadi, selesai upacara, pembagian hadiah, dan pamitan, kami segera menyusul ke puskesmas. Beruntungnya, dia gak sampai kenapa-kenapa, dan setelah kondisinya membaik, kami pun bergegas untuk pulang.

MI Ciherang KFP Jabodetabek
credit pic : Mas Angger
MI Ciherang Banten
credit pic : Mas Angger
And here we are...
Perlombaan di MI Ciherang

18 comments:

  1. Di negeri tercinta yang konon Gemah Ripah Loh Jinawi ini memang seolah udah bukan cerita aneh lagi kabar tentang keadaan fisik bangunan di beberapa sekolah yang tidak layak, terutama sekolah yang berada di daerah pelosok. Yahh mungkin ini efek dari pembangunan yang tidak merata, entahlah. Tapi saya masih bersyukur masih ada para Guru yang luar biasa karena bersedia berdedikasi mengajar di sekolah-sekolah yang berada di pelosaok sana. Keren!

    *Komen edisi seurieus*

    Baydewey, kamu cocok tuh jadi Ibu Guru, tinggal pakein seragam & kuraingin malu-malunya, biar waktu ngajar gak malu-maluin.

    *mabur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, kadang mah bukan cuma di pelosok, di Bogor sini aja kalo ditelisik-telisik mah, pasti masih ada sekolah-sekolah serupa kaya di MI Ciherang ini.
      Luar biasanya lagiii, guru-guru yang mau ngajar d pelosok tuh adaaa banyaaak banget :D

      Gampang pake seragam mah, ngurangin malu-malunya itu yang syusah -__- *komen edisi syeriuz*

      Delete
  2. cantiknya ibu2 gurunya, ran. kalau di sini juga masih banyak guru di pelosok, sekolahnya seperti sekolah yang rani foto di atas. dengan fasilitas yang masih minim tapi tidak menyurutkan keinginan untuk berbagi ilmu ya. semoga berkah buat semuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa ka, cantik-cantik gurunya yaaa..

      iyes di bogor juga sama kak, mesti masih banyak juga. bersyukurnya sih gitu, masih banyak orang-orang yang perhatian sama keadaan sekolah yang seadanya itu :)

      Delete
  3. Seru banget.. tapi aku juga kalau disuruh ngajar juga bakal minder.
    takut ga bisa jawab kalau pas ditanya muridnya XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi sama dong yah kita >_< *ngerasa ada temennya hihi

      Delete
  4. Sebentar itu MI kepanjangannya Madrasah Ibtidaiyah kah ? berarti milik swastanya ? Negeri ini kadang masih suka pilih kasih ya ? negeri dan swasta jaraknya begitu jauh kondisinya.
    Masih pulau jawa terasa dipulau mana gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya MI itu Madrasah Ibtidaiyah..
      Ya begitu lah, udah gak aneh kayanya :3

      iya bener, masih deket dr Ibukota, apa kabarnya yg beneran ada di pelosok sana :')

      Delete
  5. seru ceritanya, jadi pengen ngerasain ngajar di pelosok kaya gmn gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru sih mbak, cuma kalo mbak Iriani mah gimana nanti anak2nya, masa ditinggal hehe

      Delete
  6. Keren mba. Pasti berkesan bgt. Dua hari yg tak terlupa. :-) Soal pendidikan di negeri ini memang ada banyak ketimpangan. Banyak sekolah yg jauh dr lengkap. Bersyukur murid2nya tetap bersemangat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya banget mbak, pengalaman pertama yang gak akan pernah terlupakan :D

      itu sih yang penting banget buat disyukuri, ana-anak yang masih sangat bersemangat buat belajar ^^

      Delete
  7. ngajar di desa emang pasti meninggalkan pengalaman berkesan. gue kira di jawa timur, ternyata cuma di banten.. deket dah sama jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang bikin miris banget sih itu, karena lokasinya yang gak jauh amat dr Ibukota yakkk

      Delete
  8. Sama kayak aku Mbak, maluaaann... padahal selalu punya niatan ikutan bakti sosial atau acara ngajar gratisan. Tapi, yaitu kendala terbesarku, pemalu hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya yah itu beneran jadi kendala banget >.< tapi gimana lagi yah, susah buat diilanginnya :(

      Delete
  9. Padahal Rani cocok banget tuh jadi guru

    ReplyDelete
  10. Astagaaaaahh saya baca judulnya agak siwer, MI Ciherang saya pikir ini postingan tentang kuliner hehehe.

    Seru yak kegiatannya :)

    ReplyDelete