Wednesday, November 21, 2018

Pentingnya Kenali Gangguan Ginjal Pada Anak

kenali gangguan ginjal pada anak

Halo hai Kawanii, Hari Selasa, 13 November 2018 lalu, bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional yang diperingati setiap tanggal 12 November, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), menggelar acara bertajuk "Kenali GANGGUAN GINJAL Pada Anak".

Bertempat di Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan – Jakarta, acara yang dihadiri oleh media dan blogger ini, menghadirkan 2 narasumber, yaitu Dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A(K) - UKK Nefrologi IDAI, Unit kerja kelompok dan Dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI.

Acara diawali dengan presentasi dari Dr. Eka yang menjelaskan secara singkat, jelas dan padat, tentang apa itu ginjal, fungsi ginjal, jenis gangguan ginjal, serta, apa dan bagaimana gangguan ginjal terjadi pada anak. Selain 2 narasumber, acara ini juga menghadirkan salah satu anak penyintas/survivor (orang yang berjuang melawan (dalam hal ini, melawan sakit)) gagal ginjal, bernama Viara Hikmatun Nisa yang hadir didampingi kedua orangtuanya.


kenali gangguan ginjal pada anak

Awal kehadiaran Viara, aku ngga merasa ada yang aneh. Viara tampak sama seperti anak lain pada umumnya, aku taksir mungkin umurnya sekitar 7 atau 8 tahun. Viara juga ngga keliatan seperti anak yang sedang sakit, sekalipun memang Viara menggunakan kursi roda. Viara terlihat bersemangat, sehat, dan juga ceria. Sampai akhirnya, aku (dan mungkin semua yang ada di ruangan), cukup kaget ketika tau bahwa ternyata Viara ini umurnya sudah 14 tahun. Lebih ngga bisa berkata-kata lagi ketika Ayah Viara, menceritakan kronologis sakitnya Viara dari awal. Rasanya ikut sesak ...

Saat Viara berumur 7 tahun, Viara mengalami sakit usus buntu, sehingga harus menjalani operasi. 6 bulan pasca operasi, sakit Viara kambuh, lalu kembali menjalani operasi. 2 bulan kemudian, sakitnya kambuh lagi, dan kembali operasi lagi. Menurut dokter, Viara terkenan pelengketan usus. Pada operasi yang ketiga kalinya, usus Viara yang dinyatakan sudah busuk, dipotong. Sayangnya, saat selesai operasi yang ketiga ini, jahitannya lepas.

Kemudian Viara kembali menjalani operasi untuk keempat kalinya, dalam keadaan koma. Viara juga mendiami ruang ICU selama 50 hari, dengan kondisi perut belum dijahit, dan Viara menggunakan kantong kolostomi. Keadaan ini, membuat Viara mengalami gizi buruk. Aku sampai ngga tega banget liat fotonya pas ini. Sulit rasanya bayangin gimana perasaan orangtuanya saat itu, masyaAllah.

kenali gangguan ginjal pada anak

Setelah bangun dari koma, melihat proses penyembuhan Viara yang begitu lambat. Ditambah, riwayat sakit Viara yang tidak biasa. Seperti, usus buntu yang kambuh, operasi berulang, dan bahkan pelengketan usus. Membuat dokter, mendiagnosa Viara terkena lupus (kemungkinan terkenanya sebelum atau sesudah operasi usus buntu). Setelah itu, barulah ditemukan diagnosa lain, yaitu, adanya gejala gagal ginjal :(

Mungkin, usus buntu emang ngga ada kaitannya sama gagal ginjal. Tapi, operasi yang berulang, bisa menjadi penyebab terjadinya gangguan ginjal. Terlebih, Viara juga didiagnosa lupus sebelumnya. Penyebab gangguan ginjal sebetulnya ada banyaaak banget. Diantaranya, DEHIDRASI atau kurang minum air putih. Selain itu, pendarahan, luka bakar, infeksi berat, dan kelainan jantung, juga menjadi penyebab terjadinya gangguan ginjal pada anak.

Jika dilihat berdasarkan umur, penyebab tersering gangguan ginjal pada anak usia dibawah 5 tahun, terjadi karena adanya kelainan kongenital atau bawaan lahir. Biasanya ditandai dengan adanya kelainan bentuk ginjal dan saluran kemih. Sedangkan, penyebab tersering gangguan ginjal pada anak usia diatas 5 tahun, terjadi karena adanya gangguan pada glomerulus. Seperti, Sindrom Nefrotik, atau lebih dikenal dengan istilah ginjal bocor. Di mana, ginjal mengalami kebocoran protein dalam jangka waktu yang lama. Kedua, disebabkan oleh Glomerulonefritis atau radang ginjal yang bukan disebabkan oleh virus maupun bakteri. Seperti, misal penyakit Lupus yang menyerang ginjal. Yang ketiga, Hipoplasia atau kelainan bawaan (misal ginjalnya kecil).

Jenis gangguan ginjal sendiri terbagi menjadi dua, gangguan ginjal akut dan gangguan ginjal kronik. Diantara keduanya, tentu gangguan ginjal kronik yang paling berbahaya. Gangguan ginjal akut, merupakan penyakit ginjal yang timbul mendadak dan dalam waktu singkat. Seperti misal, Infeksi Saluran Kemih (ISK), jujur aku baru tau kalau ISK ini ada kaitannya sama gangguan ginjal. Hiks. Selain ISK, dehidrasi juga bisa jadi tanda adanya gangguan ginjal akut, baik karena kurang minum ataupun diare yang berkepanjangan. Sakit radang pada ginjal yang bukan diakibatkan oleh virus maupun bakteri, juga masuk kategori gangguan ginjal akut.

Sedangkan, gangguan ginjal kronik adalah, adanya gangguan pada fungsi ginjal selama kurun waktu 3 bulan atau lebih. Dengan kata lain, gangguan ginjal kronik merupakan episode lanjutan dari gangguan ginjal akut yang tidak tertangani dengan baik. Tapi, memang tidak semua gangguan ginjal kronik berasal dari gangguan ginjal akut, bisa juga terjadi karena faktor genetik/keturunan, dan atau bawaan lahir (sejak lahir sudah mengalami kelainan ginjal).

kenali gangguan ginjal pada anak

Sejak diketahui mengidap gagal ginjal, Viara dan keluarga, pindah ke Jakarta. Karena di Malang, saat itu belum tersedia RS dengan fasilitas cuci darah untuk anak. Viara menjalani cuci darah 2-3 kali dalam seminggu. Menariknya, Viara melewati cuci darah dengan tidak hanya berdiam diri, tapi sambil berkegiatan seperti menggambar atau membuat kerajinan tangan, seperti gelang dan tas. Luar biasanya lagi, sempet-sempetnya Viara kepikir buat menawarkan hasil kreasinya ke penghuni RS setiap kali hendak cuci darah. "Jadi, Viara tuh ke RS bawa-bawa dagangan" Ujar Ayah Viara, sambil tertawa renyah.

Ngga cuma sampai di situ, Viara juga bahkan menjual hasil kreasinya via online lho di Bukalapak dan Tokopedia. Namanya Viara Shop. MasyaAllah. Semangat Viara benar-benar sungguh SANGAT menginspirasi. Anak sekecil itu, yang sudah berkali-kali menjalani operasi, sempat melewati puluhan hari di ICU dalam keadaan koma. Menjalani hari-hari dengan kantong kolostomi terpasang di perutnya, juga sempat mengalami keadaan gizi buruk, tapi tetap tegar menjalani proses cuci darah selama kurang lebihh 5 tahun ke belakang. Kabar baiknya, Viara saat ini sedang dalam tahap antrian untuk transplantasi ginjal dari Ibundanya. Kita doankan semoga semuanya lancar-lancar ya.

kenali gangguan ginjal pada anak

See? Betapa dampak gangguan ginjal itu ngga main-main. Gangguan ginjal pada anak berdampak besar pada pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Dampak lainnya, anak bisa mengalami anemia, hipertensi, kelainan tulang, gangguan hormon, dan gangguan keseimbangan elektrolit. Tidak sampai di situ, gangguan ginjal pada anak berdampak juga pada psikososial, emosional, dan finansial. Bukan hanya bagi anak, tapi juga bagi orangtuanya. Meskipun, saat ini untuk biaya pengobatan gagal ginjal sudah ditanggaung BPJS, tapi tetap aja akan butuh uang yang ngga sedikit buat biaya lain-lainnya.

Dan faktanya, gangguan ginjal tidak dapat hilang dengan tindakan pengobatan dan cenderung memburuk dari waktu ke waktu. Jika gejala gangguan ginjal pada anak tidak terdeteksi sejak dini dan tidak ditangani segera, maka pada saat dewasa kondisinya akan mengarah ke gagal ginjal yang perlu diobati dengan terapi pengganti ginjal, seperti Hemodialisis atau cuci darah, dan juga transplantasi hati. Tapi, kalau ketauannya masih di stadium awal, masih sangat mungkin untuk diterapi agar tidak sampai ke tahap gagal ginjal.

Kenali gangguang ginjal pada anak

Gejala-gejala awal gangguan ginjal yang umumnya terlihat dan perlu diperhatikan lebih adalah, adanya pembengkakkan pada pergelangan tangan dan kaki, adanya darah dalam urin, frekuensi buang air kecil meningkat (terutama pada malam hari), sesak napas, pucat atau anemia, mual dan muntah, hilang nafsu makan, lemah dan lesu, gangguan tidur. Pada pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan peningkatan jumlah sel darah putih dan juga protein pada urin.

Di sini peran penting orangtua untuk selalu memantau tumbuh kenbang anak. Apabila ditemukan gejala-gejala seperti di atas, segera periksakan anak ke faskes terdekat untuk mendapat penangan lebih lanjut. Tindakan pencegahan juga perlu untuk dilakukan. Seperti, hindari dehidrasi pada anak, terutama saat diare atau muntah-muntah. Kurangi paparan terhadap infeksi, termasuk saat kehamilan, konseling genetik untuk cegah penyakit ginjal yang diturunkan, dan deteksi dini hipertensi dan diabetes pada anak.

Selain itu, penting juga untuk dilakukan skrining berkala pada kelompok beresiko. Yang masuk kelompok beresiko terkena gangguan ginjal kronik diantaranya, bayi dengan berat lahir rendah, anak dengan riwayat gangguan ginjal akut, anak dengan hipertensi, obesitas, dan diabetes, anak dengan riwayat gangguan saluran kemih, anak dengan kelainan ginjal yang telah diketahui, termasuk anak dengan riwayat penyakit ginjal pada keluarga.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya gangguan ginjal pada anak, Kementerian Kesehatan RI juga secara aktif mengadakan kegiatan promotif dan preventif. Serta, pencanangan gerakan Ayo Minum Air (si AMIR), sebagai upaya edukasi pada anak-anak tentang pentingnya minum air putih yang cukup untuk mencegah terjadinya penyakit ginjal kronis.


Tidak hanya itu, KEMENKES juga terus meningkatkan promosi kesehatan dalam pengendalian penyakit ginjal kronis dengan perilku "CERDIK" dan "PATUH" (cek gambar buat tau detailnya ya), menggalakkan program berbasis "self awareness" dengan mengajak masyarakat untuk melakukan pengukuran tekanan darah dan gula darah minimal 1 tahun sekali di Posbindu, dan melakukan penguatan layanan kesehatan, seperti meingkatkan akses ke Faskes pertama, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu layanan.

Kementerian Kesehatan mengajak Kita (Aku, Kamu dan Kita semua), untuk turut berpartisipasi dan mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ginjal kronik, dengan cara:
  • Memodifikasi gaya hidup, perbanyak aktivitas fisik, makan makanan sehat (tinggi protein, rendah lemak, gula, dan garam), kontrol tekanan dan gula darah, monitor berat badan dan pertahankan berat badan normal, minum air putih minimal 2 liter sehari, tidak konsumsi obat-obatan yang tidak dianjurkan, dann tentu tidak merokok.
  •  Jangan lupa implementasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Mari hidup sehat, dimulai dari diri sendiri! Salam sehat, Kawanii~


No comments:

Post a Comment